C n S
(Harapan Menuju Akhir)
Awal, kumpulan huruf yang ketika dibaca keseluruhan memiliki arti yang sangat bijak ketika disadari. Awal, sebuah kata yang melambangkan harapan dari sesuatu yang mungkin akan berakhir. Berawal dari sebuah filosofi bijak tentang permulaan, maka aku akan mengawali sebuah cerita yang memiliki awalan untuk menuju ke akhir…
Ketika terbangun dari pagi yang masih redup, aku mencoba menduga-duga apa yang harus aku awali hari ini. Karena aku tak ingin merasa bosan atau jenuh akan kehidupanku. Karena aku tak mau membuang-buang hariku dengan kejadian yang sama.
Saat pagi itu mulai menunjukkan sinarnya aku telah memulai melakukan aktivitas yang sedikit berbeda dari kemarin. Kemarin, aku hanya bangun untuk beribadah kemudian kembali ke tempat tidur. Hari ini,aku tetap beribadah namun setelah itu aku masih melakukan kegiatan, aku mandi, sarapan pagi lalu mendengarkan lagu dari komputer yang membuatku mengantuk dan tertidur. Setelah terbangun kembali, aku hampir tak melakukan kegiatan apapun selain bernyanyi sambil mendengarkan koleksi lagu di komputer. Setelah terpikir untuk melakukan kegiatan yang berbeda maka yang ada di benakku hanyalah mengungkapkan apa yang kupikirkan lewat tulisan. Maka dimulailah sebuah harapan menuju akhir…
“C n S” terdengar seperti sebuah majalah yang diterbitkan oleh suatu lembaga pendidikan bahasa asing. Tapi sebenarnya judul ini tak berhubungan sama sekali dengan lembaga pendidikan tersebut. Bahkan aku pun kursus di lembaga pendidikan bahasa asing saingan dari lembaga tersebut. Kembali lagi ke prolog, kisah ini menceritakan sebuah perjalanan khayalan seorang cancer yang bertemu dengan sagitarius disaat khayalanya semakin tinggi.
Cancer
Seorang wanita yang berparas manis dan suka sekali berkhayal tentang apapun yang terbenak dalam pikirannya, entah kehidupannya sewaktu kecil, kisah cintanya, masa depannya bahkan kehidupan yang belum pernah ada di dunia ini. Umurnya masih mendekati dewasa namun sifatnya yang begitu dewasa membuat ia menjadi wanita yang paling dikagumi. Ia berkuliah di sebuah perguruan tinggi negeri, entah mengapa yang dipilihnya adalah jurusan bahasa. Jauh sekali dari yang ia khayalkan sebelumnya, ia ingin berkuliah di jurusan komunikasi. Menjadi seorang pembaca berita adalah khayalannya yang paling tinggi ketika itu. Namun khayalannya yang tidak ada habisnya membuat ia menikmati jurusan yang ia pilih dengan khayalannya yang aneh, indah dan menakjubkan. Ia berkhayal ketika ia telah menyelesaikan kuliahnya, ia akan meneruskan kuliah di luar negeri dan mengambil jurusan komunikasi. Namun ia tak ingin menjadi penyiar berita lagi, ia ingin bekerja di sebuah stasiun tv. Cancer adalah anak pertama, ayahnya adalah seorang guru yang sangat ahli di bidang matematika. Bakat itu sempat menurun kepadanya namun suatu kejadian memaksanya menghentikan khayalannya menjadi guru matematika seperti ayahnya. Ibunya, seorang ibu yang sangat sempurna baginya karena ia tak pernah bisa mengkhayalkan apa yang terjadi setelah ibunya tiada. Cancer memiliki seorang adik laki-laki yang sifatnya sangat berbalik dengan sifatnya. Adiknya bernama Juno. Juno memiliki karakter yang keras, arrogan tapi sangat takut dengan ayahnya. Cancer dan juno tidak pernah memiliki pemikiran yang sama. Mereka selalu memiliki jalan yang berbeda dalam mengambil suatu keputusan. Tapi mereka bisa bersatu ketika mereka berada dalam kondisi yang mengharuskan kerjasama mereka berdua. Kembali ke cancer, ia begitu menyukai traveling sehingga hampir setiap waktu ia bisa traveling di manapun di dunia khyalannya itu. Berkhayal tak membuatnya lupa akan dunia nyata, apa yang ia khayalkan selalu berhubungan dengan kejadian yang ia alami. Sampai suatu ketika datanglah Sagitarius..
Sagitarrius
Seorang pria yang baru berumur 17 tahun, bertubuh tinggi dan sedikit gemuk. Ia memakai kacamata minus 6 yang terlihat agak tebal dan memperlihatkan seolah ia adalah seorang yang pintar dan baik. Sifatnya sulit ditebak, namun yang terlihat ia adalah seorang yang periang, baik dan ramah. Tarrius begitu panggilannya, ia kuliah di tempat yang sama seperti cancer. Tapi ia setahun lebih muda dari cancer. Ia mahasiswa baru di jurusan itu. Tarrius hidup hanya berdua dengan Ibunya, ia adalah anak satu-satunya. Ayahnya telah lama menghilang ketika ia baru berusia 7 tahun. Tak ada satupun kebenaran tentang kabar ayahnya, ada yang bilang ayahnya telah tewas, ada yang bilang juga ayahnya sedang melakukan perjalanan keliling dunia. Ibunya hanya bisa memberitahu kalau ayahnya telah hilang entah kemana. Namun kehidupan Tarrius sangatlah Berkecukupan. Ia tinggal di sebuah apartemen di tengah kota, apartemen tersebut telah diwariskan oleh kakeknya kepada Tarrius. Kakeknya adalah seorang pengusaha tersukses di Indonesia. Kakeknya hanya memiliki seorang anak, yaitu ayah Tarrius. Sehingga segala kekayaan yang dimiliki kakeknya pasti hanya turun ke ayahnya. Tetapi setelah hilangnya ayah Tarrius, otomatis semua warisan tersebut langsung turun kepada Tarrius. Karena Tarrius masih belum cukup untuk mengelola segala aset yang dimiliki kakeknya maka untuk sementara ibu Tarrius yang mengambil alih. Tapi kekayaaan itu malah membuat Tarrius menjadi begitu merendah. Ia yang seharusnya bisa kuliah di universitas terbaik di dunia, malah memilih kuliah di universitas negeri yang kualitasnya standar. Bahkan ketika bepergian ia tidak pernah menggunakan kendaraan pribadi, menurutnya angkutan umum adalah kendaraan terbaik di dunia. Karena disana ia dapat bertemu dengan banyak orang yang berbeda dari setiap perjalanannya. Dan di saat ia bertemu dengan Cancer..
Secangkir Teh Manis Hangat
Secangkir teh manis hangat yang khas buatan Cancer telah membangkitkan suasana pagi keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu dan dua orang anak. “Ayah hari ini mengajar di kelas berapa?” Cancer membuka dialog pagi keluarga itu. Begitulah yang dilakukan keluarga itu setiap pagi, setelah beribadah dan membersihkan diri mereka berkumpul di meja makan, menikmati sarapan pagi dan Teh manis hangat khas buatan Cancer serta melakukan dialog pagi. Memang mereka tidak membicarakan hal-hal yang begitu serius malah terkadang hanya membahas apa yang diimpikan sewaktu tidur. Tapi karena itu keluarga ini menjadi begitu harmonis, walau tinggal di rumah kontrakan yang berada di ujung gang tetapi mereka menikmatinya. Karena, suatu kebahagian bagi mereka bukan dinilai dari materi yang nyata tetapi materi khayal yang ada di dalam hati mereka. Kekayaan hati merekalah yang membuat keluarga ini terlihat sempurna. Bahkan ketika keluarga lain sedang terlelap tidur saat pagi mulai datang, mereka telah selesai melakukan aktivitas pagi mereka. “Hari ini ayah ngajar di kelas 2 ips, seperti biasa anak-anak tanggung bulan.” Jawab ayah dengan candanya yang membuat dialog pagi ini sama hangatnya dengan teh manis hangat khas buatan Cancer. Mr. KS begitu panggilan akrab murid-murid yang diajar ayah Cancer. Namun inisial KS bukan berasal dari nama aslinya Kogi Sanjuna tapi singkatan dari “Kalkulator Super” karena kepandaiannya mengajar matematika. Pak Kogi begitu panggilan akrabnya, mengajar di sebuah sekolah negeri di pusat kota. Ia telah 15 tahun menjadi guru di sekolah itu, sempat ia dipromosikan menjadi kepala Sekolah namun ia menolaknya karena baginya membuat murid mengerti matematika adalah hal yang lebih berat daripada memberi tanda tangan persetujuan proposal acara sekolah. “ya sudah ayah pergi dulu ya, kamu jangan lupa tugas kamu Juno! Cancer!” Seru pak Kogi. “Sip bos!” anak2 menyahut kompak.
Pak Kogi pergi dengan memakai motor yang sudah tidak baru namun selalu dirawatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar